Inspirasi dari Webinar Embrace New Normal Pelajar Indonesia di Wuhan

Reporter:
Editor:

Yefri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Webinar Embrace New Normal Pelajar Indonesia di Wuhan

    Webinar Embrace New Normal Pelajar Indonesia di Wuhan

    Info Event - Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Cabang Wuhan menggelar webinar bertajuk “Embrace New Normal: Wuhan, Darimu Aku Belajar, Karenamu Aku Merindu” pada akhir Maret 2022 lalu.

    Webinar ini  dipandu oleh dua moderator yaitu Refky Adi Nata, PhD. (Cand),  seorang mahasiswa S-3 Mining Engineering di Wuhan University of Technology dan Rismawati, seorang mahasiswi kedokteran di Hubei Polytechnic University.  Acara ini diharapkan bisa  menginspirasi para peserta webinar agar termotivasi dengan cerita-cerita yang dihadirkan oleh para narasumber.

    Acara dibuka dengan sambutan dari  Ketua Umum PPIT Cabang Wuhan periode 2021/2022, Khoirul Umam Hasbiy dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber pertama Shinta Amalina H. Havidz, Ph.D., CertDA, seorang pencetak rekor MURI sebagai perempuan dengan gelar doktor termuda di Tiongkok tahun 2018

    Shinta bercerita pengalamannya menjadi Doktor termuda di Tiongkok. Shinta memutuskan ke Tiongkok hanya sepuluh hari setelah melaksanakan sidang S1 nya di Indonesia, untuk belajar  ke Wuhan University of Technology, dan berhasil lulus S2 dalam kurun waktu kurang dari 2 Tahun. Ada peraturan pemerintah Tiongkok  bahwa mahasiswa yang menyelesaikan strata 2 dalam kurun waktu kurang dari dua tahun tidak boleh mengikuti wisuda tapi Shinta bisa tetap mengikuti wisuda menggantikan wisudawati lain yang tidak hadir, dan nama yang disebut pun bukanlah namanya. Beranjak dari hal itu, Shinta  memiliki motivasi untuk mempunyai wisuda yang layak, yang kemudian menuntunnya untuk menempuh pendidikan strata 3.

    Berbekal indeks prestasi dan kesan yang ditinggalkan selama pendidikan strata 2-nya, Shinta berhasil  mendapatkan beasiswa penuh untuk S3 di Wuhan University of Techonology.

    Meskipun sempat ragu akan kemampuannya,  sebagai perempuan dan mahasiswa termuda, namun Shinta memegang prinsip bahwa sekolah adalah pondasi, bukan ajang kompetisi. Ilmu tidak akan mati meskipun jasad kita sudah tiada. Di bawah tekanan pendidikan yang ada, komunitas Persatuan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) di Wuhan menjadi salah satu tempat melepas penat dan tekanan yang beliau lalui sampai menyelesaikan strata 3-nya.

    Tahun 2018 Shinta  menerima penghargaan sebagai perempuan dengan gelar doktor termuda di Tiongkok. “Jangan kejar penghargaannya, tapi kejarlah mimpimu, maka nanti penghargaan itu akan datang dengan sendirinya”, demikian jawaban Shinta ketika ditanya apa resep  keberhasilannya. Hal yang paling istimewa dari pengalaman hidupnya selama di Tiongkok adalah bahwa  mereka menghargai perempuan dan usia muda. Kisah beliau juga diceritakan dalam buku “Sekolah Itu Hobi”

    Narasumber kedua adalah Rio Alfi S.Psi M. Pedagogy, seorang  mahasiswa yang sudah berkeluarga dan membawa istri serta anaknya untuk ikut ke Tiongkok, tepatnya di Tiongkok University of Geosciences di Wuhan. Rio dan istri sama-sama menempuh pendidikan di universitas, jurusan, bahkan professor yang sama. Dalam pengalamannya, Rio menjadi salah satu tokoh penting terintisnya PPIT Ranting Dida di bawah naungan PPIT Cabang Wuhan.

    Dalam webinar ini Rio memberikan informasi terkait penyetaraan ijazah dan cara menyewa tempat tinggal di Tiongkok.  Tayangan detil dari informasi ini  dapat ditonton ulang  dalam channel youtube PPIT Wuhan. Bagi Rio, Wuhan adalah tempat di luar negeri yang pertama kali beliau singgahi, namun dia berhasil mengurus segala sesuatunya sendiri.  Agar memudahkan para pelajar lain yang ingin menuntut ilmu di Wuhan, Rio merintis terbentuknya PPIT Ranting Dida. (*)


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Ustaz Abdul Somad Ditolak Masuk Singapura

    Ustaz Abdul Somad, yang populer dengan sebutan UAS, mengaku dideportasi dari Singapura. Dia mengunggah video suasana di imigrasi.