Thuisa Talks - Potensi Mahasiswa Indonesia Di Tiongkok

Reporter:
Editor:

Yefri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • THUISA (Tsinghua University Indonesian Student Association Beijing Tiongkok) untuk pertamakalinya menggelar webinar dalam rangka merayakan 75 tahun Indonesia Merdeka (22/8).

    THUISA (Tsinghua University Indonesian Student Association Beijing Tiongkok) untuk pertamakalinya menggelar webinar dalam rangka merayakan 75 tahun Indonesia Merdeka (22/8).

    INFO EVENT - THUISA (Tsinghua University Indonesian Student Association Beijing Tiongkok) untuk pertamakalinya menggelar webinar dalam rangka merayakan 75 tahun Indonesia Merdeka (22/8). Seminar bertema Potensi Mahasiswa Indonesia di Tiongkok dalam Membangun The New Normal Indonesia diadakan bekerja sama dengan PPIT Perhimpunan Pelajar Indonesia (seluruh) Tiongkok dan 18 cabang PPIT  mampu menyedot animo ratusan mahasiswa sejak awal sampai akhir webinar.

    THUISA sukses menghadirkan tiga tokoh internasional yang benar-benar menguasai informasi tentang Tiongkok dan Indonesia. Ketiga tokoh tersebut adalah Mochtar Riady , Founder dan Chairman Lippo Grup yang juga pendiri Mochtar Riady Library di Tsinghua University, Ketua Pelaksana Perkumpulan Persahabatan Alumni Tiongkok Indonesia Adi Harsono dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia, yang diwakilkan oleh Wakil Duta Besar Dino R Kusnadi.

    Acara yang dipandu langsung President THUISA Ruth Kirana diawali presentasi Wakil Duta Besar yang menyatakan pada tahun 2020, selain peringatan 75 tahun Kemerdekaan, Indonesia juga merayakan 70 tahun persahabatan Indonesia dengan RRT. “Peringatan 70 tahun itu bukan sesuatu yang berhenti total; justru kita sudah mulai mengambil langkah untuk 5 tahun, 10 tahun bahkan 20 tahun mendatang” kata Dino yang baru diangkat menjadi Wakil Duta Besar Januari tahun ini.

    Dino menyatakan animo pelajar Indonesia ke Tiongkok terus bertambah. Data KBRI Tiongkok menyatakan akhir 2019 sudah lebih 16.000 pelajar Indonesia belajar di berbagai bidang. Sejak pandemi COVID-19 yang dimulai di Wuhan dan merembet ke seluruh negeri Tirai Bambu membuat 90% pelajar Indonesia mudik sampai sekarang. Namun Dino optimistis kondisi akan pulih dalam jangka waktu dekat. Diplomat Indonesia yang enerjik ini baru saja selesai kunjungan kerja besama Menlu RI ke Hainan RRT untuk mengurusi proyek pemesanan 40 juta vaksin COVID-19 untuk Indonesia.

    Sementara, di usianya yang menjelang 92 tahun Mochtar Riady tampil tetap enerjik  dan

    bahkan mampu menyampaikan presentasinya secara langsung tanpa slide untuk membagi opini visionernya tentang kondisi perekonomian global akibat pandemi. Mochtar Riady menyatakan bahwa akibat terberat dari COVID-19 adalah resesi dunia yang bisa berlangsung sampai 6 tahun ke depan. Karena itu, baik Pemerintah maupun masyarakat harus mempunyai persiapan jangka panjang menghadapi resesi panjang di seluruh dunia.

    Founder Lippo Group ini membagikan pengalaman saat berkunjung ke Tiongkok pada tahun 1990 dengan kondisi infrastruktur Tiongkok sangat terbelakang. Namun, dalam kurun waktu 30 tahun Tiongkok yang awalnya adalah negara yang serba kekurangan, sekarang menjadi negara yang serba kaya.

    Mochtar yang mendapat gelar Profesor Kehormatan dari Southeast University Nanjing dan Fujian Normal University RRC menegaskan bahwa salah satu faktor terpenting yang mendukung perkembangan Tiongkok adalah karena keputusan Deng Xiaoping yang pada tahun 1987 mulai membuka perekonomian dan pendidikan Tiongkok ke arah internasional. Pemerintah RRT mengirim ratusan ribu mahasiswa Tiongkok belajar terutama teknologi ke Amerika dan Eropa. Setelah lulus, mereka kembali dan membangun Tiongkok.

    Pendiri Mochtar Riady Library di Tsinghua University Beijing itu menutup presentasinya dengan berpesan kepada ratusan peserta webinar yang beruntung bisa berkuliah di Tiongkok. “Selain belajar pengetahuan, kalian harus mempelajari karakter, attitude, sikap kerja keras dari masyarakat Tiongkok dan membawa hal-hal baik ini ke Indonesia.”

    Ketua PERHATI, Adi Harsono mengajak peserta webinar untuk melihat kenyataan, keberhasilan suatu negara yang mampu menjaga persatuan dan berfokus pada peningkatan teknologi, dibandingkan dengan negara yang sibuk bertengkar karena kesulitan menggalang persatuan. Contoh nyata adalah Palestina yang sampai sekarang masih belum mendapatkan kemerdekaannya, kurang rasa persatuan, dan saling bertengkar. Hal itu jelas memperburuk ekonomi, sosial budaya, bahkan pertahanan dan keamanan, wilayah juga mengecil.

    Adi menekankan bahwa hal ini sangat esensial dalam memajukan suatu bangsa. Keadaan bangsa Indonesia di tahun 2045 nanti sangat bergantung pada persatuan bangsa Indonesia sendiri, Indonesia dapat menjadi negara kuat bila kita bersatu bersama untuk mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Kepada mahasiswa Indonesia yang berada di Tiongkok, suami dari Direktur World Bank, Mari Pangestu itu menekankan mahasiswa di Tiongkok dan THUISA untuk memanfaatkan kesempatan belajar di Tiongkok dengan fokus pada ilmu pengetahuan dan mengembangkan kepentingan bersama. Adi juga berharap agar para pelajar Indonesia di Tiongkok bisa belajar dari pengalaman Tiongkok selama 30 tahun terakhir, dengan sikap open mind, open heart, dan open will. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Jalan Terus, Ada Usulan Perihal Pelaksanaan dalam Wabah Covid-19

    Rapat kerja antara DPR, Pemerintah, KPU, Bawaslu dan DKPP menyepakati bahwa Pilkada 2020 berlangsung 9 Desember 2020 dengan sejumlah usulan tambahan.